Tradisi Nyadran, Merawat Warisan Budaya dan Spiritual Masyarakat Jawa

Nyadran, berasal dari bahasa Sanskerta "Sraddha" yang berarti keyakinan, merupakan tradisi yang erat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Awalnya sebagai budaya mendoakan leluhur yang telah meninggal, Nyadran berkembang menjadi adat dan tradisi dengan beragam seni budaya.

Tradisi Nyadran, Merawat Warisan Budaya dan Spiritual Masyarakat Jawa.Foto : tivi7news.com/ilustrasi.

Nganjuk, tivi7news.comNyadran, berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha” yang berarti keyakinan, merupakan tradisi yang erat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Awalnya sebagai budaya mendoakan leluhur yang telah meninggal, Nyadran berkembang menjadi adat dan tradisi dengan beragam seni budaya. Dilakukan pada bulan Ruwah, Nyadran, juga dikenal sebagai Ruwahan, merupakan akulturasi budaya Jawa dengan Islam.

Menurut Yanu Endar Prasetyo, Nyadran atau Sadranan adalah tradisi orang Jawa pada bulan Sya’ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa). Tujuannya adalah mengucapkan rasa syukur secara kolektif dengan mengunjungi makam leluhur di kelurahan atau desa. Nyadran menjadi sarana doa untuk leluhur yang telah meninggal, mengingatkan akan kematian, serta menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama) yang mendukung budaya gotong royong dalam masyarakat.

Tradisi Nyadran mencakup sejumlah kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat, antara lain:

1. Besik: Membersihkan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan secara gotong-royong, di mana masyarakat dan keluarga bekerjasama untuk merawat makam leluhur.

2. Kirab: Peserta Nyadran berarak menuju tempat upacara adat.

3. Ujub: Pemangku Adat menyampaikan maksud dari serangkaian upacara adat Nyadran.

4. Doa: Pemangku Adat memimpin doa bersama yang ditujukan kepada roh leluhur yang telah meninggal.

5. Kembul Bujono dan Tasyukuran: Setelah doa bersama, dilanjutkan dengan makan bersama. Masyarakat menggelar Kembul Bujono, di mana setiap keluarga membawa makanan tradisional seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, prekedel, tempe, tahu bacem, dan lainnya. Makanan yang dibawa diletakkan di depan untuk didoakan oleh pemuka agama setempat guna mendapatkan berkah. Kemudian, terjadi tukar menukar makanan antar keluarga, menjalin keakraban sebelum bersama-sama menikmati hidangan.

Pelaksanaan tradisi Nyadran tidak hanya sebatas ziarah ke makam leluhur, melainkan juga mencakup nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, aspek ekonomi, silaturahmi, dan berbagi di antara masyarakat dalam lingkungan tertentu.

Setiap pelaksanaan Nyadran dilakukan dengan kearifan lokalnya, menyebabkan variasi dalam prosesinya di berbagai tempat. Selama perkembangannya, terdapat pengembangan dalam prosesi Nyadran dengan memasukkan unsur-unsur budaya, termasuk kesenian khas daerah sebagai bagian dari pertunjukan. Nyadran juga menjadi bagian dari tradisi menjelang bulan Ramadan di beberapa wilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *